Kamis, 11 Agustus 2011

anugrah terindah


Teriakan-teriakan itu kembali terdengar.
“GENDUT, BANGUN! JEMUR BAJU!”
“GENDUT, MAKAN!”
Sebagian orang mungkin berfikir itu kasar, namun tidak untukku. Aku hanya tersenyum. Mendengar kembali teriakan-teriakan dari kakak paling hebat sedunia, mbak Astrie Pusphita. Memang begitu lah karakternya, PERINTAH. Yah, mungkin sudah seperti itu karakter anak sulung dimana-mana. Meski begitu, kata-kata nya diatas adalah bentuk kasih sayangnya padaku. Ia kakak pertama. Satu-satunya kakak perempuan yang kumiliki. Meski akhwat, ia sangat tangguh. Pengaruh kuliah di teknik industry membuatnya menjadi ‘orang serba bisa’ di rumah setelah papa. Aku punya 2 orang abang, tapi tetap saja, Tugas-tugas seperti ngecat plapon, bongkar-bongkar radio,dispenser,strika dll dibebankan padanya. Wanita inilah yang mengajarkanku untuk bertahan kuliah.
“mbak dulu datang kebandung dianter papa Cuma beberapa hari. Setelah itu semuanya mbak lakukan sendiri. Kalo acha sudah memutuskan untuk kuliah diluar, maka acha harus menanggung  semua konsekuensinya. Kalo acha sudah memutuskan untuk kuliah dikimia, maka acha harus selesaikan tugas acha”
Ia, punya banyak kata-kata motivasi.aah,,, ia kakak paling hebat!
Teriakan kedua :
“GENDUT, MAU MAKAN APA?”
“GENDUT, MAMA SURUH BLA…BLA…BLA”
Ini karakter abangku yang ke3, Adhe Permana. Aahh, ini juga abang yang luar biasa. Kadang aku sendiri merasa malu. Ketika ia masih dibandung, aku akan sms, jika ada perlu saja.
“mas, besok acha LKM, butuh senter ama ransel besarS.”
Sudah, seperti itu saja.  Singkat. Tak tau malu. Tak ada balasan. Namun menginjak jam 11an malam, pintu kostan pasti berbunyi. Ya, mas adhe datang dengan barang yang kuperlukan plus makanan. Marah-marah dulu karna mintanya mendadak, itu juga pasti.  Lalu, ia pun pulang. Aah,, bentuk perhatian dan kasih sayang yang berbeda.
Lain dengan mbak astrie dan mas adhe, yang satu ini tak pernah berteriak. Tak pernah memanggilku dengan sapaan GENDUT. Abangku yang satu ini dingin, namun DIA YANG TERBAIK*tentu mas adhe juga*. Dari SMP, sampai SMA, laki-laki bernama Adie Pradhana ini yang mengantar jemputku kemana pun aku mau pergi. Mulai dari pergi sekolah, makan di luar, ke rumah temen, ke toko buku, dll. Maklum, beliau memang kuliah di tanjungpinang,tidak seperti mbak astrie dan mas adhe yang perantau sejati. Jadi, bisa dibilang kami ga pernah pisah. Pisahnya ya baru ketika aku pergi ke bandung saja.
Hari ini, dengan sakitnya papa, kami ngumpul kembali setelah berpencar-pencar kemana-mana. Bayangan ketika masih kecil pun terusik kembali. Melihat kamar itu, membuat aku ingat beberapa tahun kebelakang, saat kami bermain monopoli, tempat tidur itu, mengingatkan akan tidur siang kami, ruang tengah, mengingatkan aku pada sholat magrhib berjemaah sekeluarga di lanjut dengan ngaji. Ya… dulu kami mengaji bersama. Papa lah ustadnya.  Rumah kami jauh dari mesjid, sangat jauh. Maka kami melakukan semuanya sekeluarga. Sayang rotan itu tak ada lagi. Rotan yang memukul telapak tangan kami jika kami tak dapat menghafal ayat ayat pendek yang telah papa tugaskan.
Kami dididik keras dan penuh peraturan. Bada subuh dilarang tidur, pulang sekolah sepatu dan seragam dirapikan sendiri,  makan siang lalu wajib tidur siang. Sorenya, kami bebas untuk bermain apapun. Tak ada larangan. Mau  main kotor atau apapun, silahkan saja. Mandi dan sholat berjemaah lalu mengaji. Bada isya, belajar. Jam 9, waktunya tidur. Agenda bisa berubah sewaktu-waktu jika papa tidak di rumah. Jadwal belajar diganti menjadi bermain monopoli bersama anak-anak tetangga yang biasa mengaji dan belajar di rumahku.
Namun, sekarang kondisi sudah berbeda. Mbak astrie sudah punya anak (sekarang mau 2), mas adie mau nikah, mas adhe sudah punya calon. Mmmhhh….
Tak jarang air mata ini mengalir. Aku takut di tinggal mereka. Hari ini aku bertanya pada mas adie “mas, kalo udah nikah, masih sayang ga sama acha?”. Jawabanya adalah “masih.”
Cukup seperti itu saja. Aku hanya tersenyum. Memang seperti itulah dia. Dingin, tak romantis, namun aku tau betapa ia menyayangiku. Dari kecil kami bermain bersama, bahkan walaupun aku tak bermain bola bersamanya, ia tetap mengajakku ke lapangan bola bersejarah di dekat hutan itu. Bahkan ia menyusulku ke tempat aku mengadakan acara sekolah untuk jarak yang memang cukup jauh.
Kalian adalah abang dan kakak paling hebat yang pernah ada. Betapa diri ini terlalu banyak merepotkan kalian, namun yang perlu kalian semua tau adalah, acha sangat menyayangi kalian. Tak pernah sedikitpun acha lupa. Terimakasih atas didikan keras dan belaian manja mba dan mask u…
Keluargaku adalah anugrah terindah dalam hidupku

Minggu, 07 Agustus 2011

Ada Kisah dibalik Upgrading




Ini kisah konyol antara aku dan seorang sahabat.
Sore itu, beres kuliah, yuyun yulianti sahabatku langsung disodori kebingungan yang mendalam. Pasalnya, ia mau pergi mencari pemateri  untuk upgrading,namun tak tau alamatnya, meski aku juga tak jauh beda dengannya, tapi kami tetap memutuskan untuk NEKAD.
Diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim aku menarik gas spin milik teman sekelasku yang dermawan, prisla. Baru saja berangkat, kami sudah memasang tampang bingung ketika hendak keluar dari kampus. Maklum, kami ga tau peraturan kampus tentang permotoran.
“yun, kartu teh dimana?” tanyaku.
“eh, ga tau cha,” katanya dengan aksen sunda yang begitu kental. sahabatku yang satu ini memang berdarah sunda dan lumayan menjunjung tinggi kebudayaan daerahnya.
“telpon Prisla dech,” perintahku. Aku melihat kiri dan kanan, memasang tampang ‘semuanya baik-baik saja kok’ yang kutujukan kepada bapak satpam sangar yang tak bisa dipungkiri sejak tadi melihat kami dengan penuh tanda tanya.
“cha, katanya di dompet kunci motor cenah” kata yuyun membuyarkan tampang sok luguku.
Dan petualangan pun, dimulai.
Mengendarai motor dibandung itu, beda banget dengan mengendarai motor di kampung halaman. Maklum, disana kan masih relatif sepi, jadi bisa kebut-kebutan dan nyampe dalam waktu 1 jam 15 menitan dengan jarak tempuh kurang lebih 90KM. kalau di bandung itu, terasa aman dan nyaman meski  musuh besarku memang angkot dimana-mana juga. Pernah suatu kali aku sedang pergi bersama mama, dan seperti biasa, angkot selalu saja berhenti mendadak dan sembarangan bahkan ditikungan tajam sekalipun. Ngedumel pun tak terelakkan lagi. Yang lebih menyakitkan, saat mama bilang “ udah cha, gapapa lah. Namanya juga orang cari uang nak,” ujar mama.
Kembali ke topik…
Kita berhenti bentar di pangkalan angkot panorama untuk menanyakan alamat kepada mang kenek. Tapi ternyata, mang kenek pun ragu dengan alamat yang kami tanyakan. Untungnya ada bapak-bapak-bapak yang menyamperi kami untuk menawarkan bantuan pengetahuannya(barakalloh bapak).
“ada apa neng?” tanyanya
“ini pak, mau nanya, alamat ini dimana ya?” Tanya yuyun sambil menyodorkan handphone Xperia miliknya untuk memperlihatkan sms alamat yang kami cari.
“Indra Saepul Alam,” katanya membaca dengan bingung( mungkin si bapak berguman dalam hati  ‘teu aya neng jalan indra saepul alam mah’)
“eehh, bukan yang itu pak, yang ini,” jawab yuyun meluruskan dan menunjukkan kolom yang benar.
“ jalan rereng adu manis. Oohh, ini mah deket pahlawan dan surapati, bla…bla…bla…(penulis bingung dan lupa apa yang beliau katakan).
Karena tak tau sama sekali dimana itu surapati dan pahlawan, juga melihat wajah bingung pada yuyun. Maka aku pun berinisiatif untuk bertanya kembali.
“kalo ngikutin angkot, angkot kearah mana ya pak?”tanyaku lagi.
“oh, ikutin caheum-ledeng aja neng, nanti udah lewat ITB, Tanya-tanya aja lagi, bisi ntar kebingungan.
“oh, makasih ya pak,” ujar kami hamper berbarengan.
Aku kembali  tancap gas. Kaku-kaku gimana gitu setelah sekian lama ga bawa motor. Apalagi matic, mmmhhhh….soalnya dirumah si firebolt ku kan motor bebek biasa. Mas adie punya, juga megapro, jadi terbiasanya pake bebek n meski ga lihai, tapi bisa pake megapro(itu jugai berkali-kali dijitak karna mati aja).
Eeehhh, ngelantur lagi,, kembali ketopik.
Kalo Cuma dari setiabudhi ke ITB mah gampang. Apal banget si gue. Soalnya tiap kamis sore kan kesana untuk kajian FLP. Jadi skip saja ya cerita nya. Lewat dari ITB, kita langsung pasang ancang-ancang untuk kembali bertanya. Kali ini korbannya adalah tukang sate. Nah, untuk yang sekarang, yuyun yang turun dan nanya. Aku? Ya di motor aja. Berharap yuyun cukup baik dalam mengingat.
Setelah naik, aku dengan Pedenya tancap gas lagi. Kata yuyun sich, terus aja sampe lampu merah. Ya udah, aku terus aja. Tiba dilampu merah, kami berhenti. Ada lampu merah, berati ada perepatan, jadi  Tak salah bukan jika aku bertanya “yun, kemana lagi nich?”
Dan anda tau pemirsa apa yang dikatakan oleh akhwat kecil pelupa itu?
Dia menjawab, “ ga tau cha, aku LUPA!”
Serasa ada palu godam yang memukul kepalaku dengan keras.
-.-“
T.T
Aku pun hanya bisa menjawab, “ ambil handphone di saku jaket aku, telpon echi. Tapi aku ga ada pulsa.
Echi itu temen aku dari bintan yang kuliahnya di widyatama. Meski sama-sama dari bintan, tapi pengetahuannya soal jalan di bandung sangat baik dan salah satu alasan kenapa aku suruh yuyun menghubunginya karena, kalo ga salah ni, aku sering denger dia nyebut-nyebut surapati . ntah itu letak kampusnya, atau disana biasa dia mangkal di pangkalan ojek.
Nekad aja nich belok kanan sementara yuyun lagi nelpon echi. Beres nelpon, aku mengambil kesimpulan bahwa kami bakal ngelewatin pusdai. Pernah sich ke pusdai, tapi ironisnya aku tidur di angkot. Jangankan ngeliat jalan, mang angkot nya juga udah lupa mukanya(ya iya lah,mulai ngelantur).
Macet nich, ditambah di depan ada polisi. Keringet dingin mulai menjalar. Meski sudah 3 kali nabrak angkot, tak menjamin diriku punya SIM. Tapi, macet adalah kesempatan yang pas untuk kembali bertanya. Ada akang-akang ganteng di sebelah.
“yun, Tanya jalan, pusdai teh ke arah mana.”
“malu cha…” jawabnya.
“ malu, ato kita bakal kesesat trus pematerinya udah keburu pulang, prisla juga pulangnya kemaleman. Hayo, pilih mana,” ancamku. (maaf ya yun, untuk kebaikan)
Akhirnya, si yuyun nanya, tapi sama anak sekolah yang disebelah kiri kita.
Singkat cerita, kita dapet alamatnya. Yuyun udah mulai mahir nanya-nanya alamat. Udah dapet alamatnya, kami selesaikan urusanya dan perjalanan pulang pun menanti.
Sore itu udah mulai gerimis. Dan saat itu kami baru meluncur. Keputusanku untuk rada ngebut pun disetujui oleh yuyun. Kami lewat flyover nich.hehe…seneng lah pastinya.haha, norak banget. Gapapa lah,sesekali mah. Nah, disini nich hujan super gede mengikuti. Saking lebatnya, ni tangan ampe sakit kena tetesan airnya. Dingiiiiiiiin banget. Tangan udah kaku dan mati rasa. Seluruh badan udah basah kuyup kaya baru keluar dari samudra hindia*kayak yang pernah aja*. Yuyun pun nyempil aja dibelakangku sambil trus bilang berkali-kali, “ duh,kasian prisla” hingga aku berteriak “ KASIAN PRISLA???KITA YANG KEHUJANAN,AKU YANG KEDINGINAN, KENAPA KASIANNYA AMA PRISLA?”(bukan marah, tapi karna hujannya emang gede banget, jadi takut si yuyunnya ga kedengeran).
Sulit mendeskripsikan sebesar apakah hujannya. Sampai aku yang memang punya masalah ama mata, sulit melihat jalan. Dilema. Kalo pelan malah tambah kuyup n kedinginan(aku punya masalah ama yang namanya dingin), mau ngebut, ga keliatan jalan. Bisa-bisa nabrak. Efek dari ga kelihatan jalan yang dipadukan dengan ngebut adalah  kita lempeng aja terus. Padahal seharusnya kita ambil jaln kekiri untuk turun dari flyover menuju setiabudhi. Dan semakin merana lah nasib kami karena nyasar yang cukup jauh hingga BTC. Untungnya, aku pernah ngelewat sini waktu mau ke mesjid habib kompleks bandara meski waktu itu ngangkot. Dari sini, kita ngikutin aja angkot arah ledeng. Tapi, angkot kan sebentar-sebentar berhenti, ga mungkin juga kita mau berhenti. Makin lama dong, ini dingin udah kebangetan lah. Jadi, aku memutuskan untuk liat-liat aja papan ijo penunjuk jalan. Alhamdulillah lah hampir nyampe.
Mmmhhhh….bensin pun hampir habis, sekali lagi si yuyun berkata : “ kasian prisla” -.-‘’.  Maka kita pun lurus ajah kearah lembang untuk isi bensin.
Yuyun said : “ cha, kalo isi 20ribu cukup ga?” tanyanya. Tanpa melihat wajahnya pun aku bisa membanyangkan wajah lugunya.
“hellowww, ini motor mah, bukan mobil. Motor adek juga 12rb udah penuh. Itu juga kalo udah kosong banget. Ai mamah ga punya motor? “ kataku.
“ya punya, Cuma kan aku ga tau.hehehe,” jawabnya.
Beres isi bensin, kami dorong dulu kedepan. Daaannnn…. Aku ga bisa nyabut kuncinya. Memalukan sekali. Yuyun juga ga bisa. Akhirnya, dengan tampang penuh belas, aku berkata pada aa disebelahku yang lagi smsan.
“a, tolong cabutin kuncinya boleh?” tanyaku.
Tepat dugaanku. Kita ga bisa nyabut bukan karna kita udik, tapi karna emang susah. Si aa nya juga susah nyabutnya.
                Akhirnya, kita legaaaaa banget karna bisa pulang tanpa hutang. Bensin udah penuh, motor aman-aman aja, dan semuanya beres.
                Nyampe di kampus, kita kebingungan lagi dengan system permotoran. Si yuyun sibuk bilang ‘duh, kartu prisla kan tadi udah dikasi kebapak satpamnya’(mungkin dia berfikir, kalo mau masuk harus ngasi kartunya lagi). Tiba di pos, yuyun ngotot bilang kartunya udah di kasiin, sementara si satpam yang memang sangat jutek kebingungan. Aku? Seperti yang sudah kukatakan bahwa aku punya masalah serius sama yang namanya dingin hingga tak bisa berfikir, aku memutuskan untuk diam saja. Biarlah yuyun dan pak satpam yang menyelesaikan masalah mereka (nah lho?). akhirnya persengketaan kartu parkir berakhir dengan ending si yuyun dikasi hadiah kartu parkir(memang sudah seharusnya).
                Ada rahasia dibalik rahasia, tiba di LPPM aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Seperti ada yang salah ama ban belakang. Dan benar saja dugaanku, ban bocor. Olala…. T.T kita memutuskan untuk ke jica dulu sebelum nyari tambal ban karena saat itu sudah jam setengah tujuh lewat dan aku belum sholat magrib. Sepanjang jalan, yuyun tak berhenti berkata “ kasian prisla”, otakku yang ga karuan membuatku membayangkan prisla duduk  di gerbang cempaka atau darmawinata sambil memegang mangkok di tangannya. Konyol memang mengingat temanku yang jenius dan selalu punya IP 4 itu mengalami hal itu.
                Aku sholat dikostan mila, meski saat itu sempet dimarah-marah ama mila. Ga dibolehin pergi, sebelum ganti baju. Jadi ya, ganti baju dulu. Malam itu kita emank punya agenda rapat mading sich. Tapi kayaknya ga memungkinkan. Jadi anak-anak, kusuruh pulang.
                Beres sholat, aku kembali ke yuyun, menerima nasib  harus nyari tambal ban. Kita mencoba pelan-pelan untuk naik. Namun, sampai di ilkom kondisi memang tidak memungkinkan lagi untuk dikendarai.
“ya udah cha, aku jalan aja,” kata yuyun.
“ tetep aja ga bisa, aku kan berat. Kamu aja ni bawa,” kataku
“ngaco, aku kan ga bisa,” katanya.
“Ya sudahlah kita terima nasib,” kataku.
                Tak bisa dipungkiri, aku butuh bantuan. Maka aku nelpon indra sang ka.bem dan yuyun, nelpon seorang kakak tingkat yang bawa motor dan sering main ke PKM walau KKN juga, berharap beliau masih ada di kampus. keberuntungan tak memihak. Nomor indra, baik yang As maupun yang Tri, ga aktif. Tapi si yuyun bilang si akang ***** mau dateng. Ada di sersan bajuri cenah.
                Serasa mendapat angin surga, kami pun menunggu dengan penuh harap. Cukup lama. Setiap motor yang datang, kami berharap pengendaranya adalah malaikat pendorong motor yang mau membantu kami. Dan akhirnya, orang yang ditunggu-tunggu pun datang.  Loe-loe pade tau apa solusi yang di berikan? Ia berkata : “ya udah, mau digimanain lagi? Dorong aja”  daaannnn….pergi. 1 hal yang kami lupakan saat itu adalah, kami harusnya tak boleh bergantung dan berharap lebih pada manusia. Sudah semstinya lah meminta pertolongan ke Allah. Jadilah kami dorong motor dari ilkom menuju gerbang. Inginnya sich nambal dipanorama. Gila, itu masih jauh banget, sekali lagi JAUH BANGET. Ini udah malem, aku belum makan dari pagi, dan kami kedinginan. Yah, mau gimana lagi.
                Aku ngedorong di depan, yuyun di belakang. Asa berat pisan hingga aku berkata :
                “cik atuh dorong,” kataku melihat kebelakang.
                “iya ini udah dorong,” katanya dengan muka yang udah kucel, baju yang udah basah. Ditambah dengan ransel ku yang digendongnya sementara ranselnya sendiri dibelakang punggungnya. Ia juga membawa helm ku sementara helmnya masih ia pakai. Sebuah pemandangan langka. Kasian juga ni anak, batinku. Aku juga tau matanya udah berair. Ya ampun, akhwat banget ya…ckckck
                Deket-deket BNI, ada bapak satpan yang naik motor lalu bertanya, “ kenapa neng motornya?”
“ban bocor pak,’ ujarku.
“oh, di depan ada tambal ban. Bapak duluan ya, bapak liatin dulu masih buka apa ga. Bapa tunggu di gerbang,” katanya penuh kasian.
“oh, iya pak, makasih ya pak,” ujar kami.
                Meski akhirnya kami memang ngedorong motor ampe gerbang, tapi kami senang karna si bapak menepati janjinya untuk menunggu di gerbang. Ia juga membantu menyebrangi motor.(barakalloh bapak). Oia, aku sampai harus menelpon abangku loch untuk menanyakan biaya tambal ban berapa. Soalnya kami sama-sama ga tau dan takut di tipu.
                Akhirnya, waktu pulang pun tiba….
                Alhamdulillah, berakhirlah petualangan aku dan yuyun hari ini, di tutup dengan makan nasi goreng dengan brutal.
                Untuk saudaraku yuyun, maaf ya atas segala kesalahan. Namun hari itu sangat indah meski  banyak rintangan. Boleh jadi, itu salah satu cara Allah untuk mempererat kembali ukhuwah kita J
Aku mencintaimu karena Allah… J

Sabtu, 06 Agustus 2011

hanya kutitipkan

Melalui angin yang menggoyahkan dedaunan,
Kukirimkan nafas khawatirku padamu.

Melalui embun yang membasahi dedaunan di pagi hari,
kutitipkan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.

dalam diam kupekikkan teriakkan ku
dalam senyum kusimpan belasku.

Rindu ini membuattku selalu memimpikanmu

Aku tau,Allah y ang Maha Kuasa berkuasa penuh atas dirimu.

Aku hanya bisa menitipkan sejuta doa untukm,
yang pasti akan melesat laju ke Arsy Allah.
Semoga malaikat-malaikat Allah senantiasa mendoakanmu,

Perpus UPI, 12 juni 2010

Jumat, 05 Agustus 2011

PERJALANAN DARI SEBUAH POTRET




            Hanya bercerita sedikit tentang perjalanan dari  gerlong-bandung selatan tanggal 8 agustus 2010 yang lalu.

            Jam baru saja menunjukkan jam 07.00AM, tapi keadaan jalanan kawasan panorama bandung sudah dipadati kendaraan. Baik kendaraan umum, maupun kendaraan pribadi. Pemandangan seperti ini tentu tak akan pernah dilihat di daerah perkampungan, ditambah lagi, pada tanggal itu adalah hari minggu. Hari yang dinanti-nantikan semua orang untuk beristirahat dari aktivitas yang padat.
            Hari itu, saya dan teman-teman (N-tropi Management) bermaksud untuk pergi ke bandung selatan. Tempat seorang kakak tingkat akan melangsungkan pernikahan. Kami berangkat, menggunakan bus damri.
            Ini adalah pengalaman ke3 kalinya saya menggunakan bus ini. Kami beruntung, karena kali ini mendapatkan tempat duduk. Yah, pastinya bus ini, sudah seperti idola. Selalu saja penuh karna menawarkan harga yang murah untuk perjalanan yang jauh, maupun yang dekat. Dengan RP.2000 saja, masyarakat bisa menempuh perjalanan dari teminal 1 ke terminal lainnya. Bus ini di naiki oleh berbagai macam orang dan kalangan sehingga dengan percampuran yang sempurna ini, menghasilkan kesumpekan yang luar biasa.
            Baru jalan sekitar 20M dari tempat yang kami naiki, penumpang sudah bertambah lagi 1 orang yang mengisyaratkan kalau bangku kosong sudah tidak tersedia lagi. Bus berjalan pelan sekali. Entahlah, apa mungkin sang supir menggunakan prinsip ‘biar lambat asal selamat’ ataukah agar tak seorangpun pengguna setia layanan bus ini tertinggal.
            Bus kembali berhenti untuk menaikkan penumpang walau sang supir sudah mengetahui kuota sudah tak tersisa lagi. Kali ini yang masuk adalah seorang ibu tua dan 2 orang bapak tua. Wah, sekali lagi saya ingin mengatakan, bus ini di konsumsi semua umur. 2 orang bapak tadi, duduk dekat kaca depan bus yang juga sebelah supir. Saya sendiri tak yakin, apakah itu memang tempat duduk. Sedangkan ibu, harus berdiri. Tapi, baru sebentar saja sang ibu berdiri, pemuda berpenampilan necis dengan headset ditelinganya segera berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk si ibu. Pemandangan ini sungguh sangat menyenangkan buat saya. Bangsa ini, masih memiliki pemuda-pemuda yang sopan dan santun tentunya.
            Saya  selalu memperhatikan keadaan bus setiap kali bus ini berhenti. Jumlah yang keluar, selalu tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang masuk. Setiap kali bus berhenti, kesempitan semakin bertambah. Tentu saja seluruh badan ini merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Mulai dari hidung, mulut, kaki, sampai dengan telinga. Dengan ketidaknyamanan ini, saya berusaha mengalihkannya dengan cara memperhatikan lagi penduduk bus ini. ada yang asyik mengobrol, melamun, mendengarkan musik, dan tidak sedikit yang terserang kantuk hingga tertidur. Satu hal lagi yang baru saya sadari, bahwa yang memenuhi bus ini, bukan hanya penumpang yang jenisnya adalah manusia, tapi juga barang bawaan yang luar biasa banyak dan besar dari sebagian penumpang.
            Mendekati terminal Tegal Lega, bus kembali berhenti. Kali ini, penumpang yang yang ingin menaiki bus damri ini, bukan hanya seorang, tapi sekelompok orang. Jujur saya sangat kaget melihatnya, ditambah lagi dengan sekelompok penumpang tadi yang tetap menaiki dan supir yang mengizinkan walau sudah tau, bus ini, sudah tak bisa ditumpangi lagi karena jumlahnya, sudah sangat melewati ambang batas. Penumpang masuk secara paksa seolah bus ini adalah penyelamat keadaan ekonomi mereka. Ah, lagi-lagi ini adalah fenomena keterbatasan ekonomi.
            Untuk  orang yang menderita penyakit asma atau gangguan pernafasan, tidak disarankan untuk menggunakan layanan ini. oksigen yang tersedia dalam bus sepertinya tidak mencukupi untuk mensuplay kebutuhan konsumennya. Kali ini, pemandangan dalam bus,sangat menyeramkan. Bagaimana tidak, saking penuhnya bus, orang-orang itu bergelantungan di pintu dan memanjat pintu bus seolah mereka punya 9 nyawa. Bagaimana mungkin mereka tidak merasa takut atau risih dengan keadaan tersebut? Sedang yang melihatnya saja begitu mengerikan.
            Potret  peristiwa ini menimbulkan banyak sekali pertanyaan dalam benak yang telah sekian lama tak peka terhadap bangsa ini. kenapa hal ini bisa terjadi? Masih kurang kah transportasi umum yang disediakan pemerintah? Terlalu kecilkah dana yang di berikan pemerintah untuk pengadaan dan perawatan sarana dan prasarana?
            Alhamdulillah, akhirnya perjalanan ini berujung di Terminal Tegal Lega. Perjalanan yang sangat berati bagiku. Memberi banyak pelajaran yang takkan pernah kujumpai di pulau Bintan.
            Tapi perjalanan belum berakhir sampai ke tujuan. Kami, harus ,menaiki angkutan kota. Perjalanan yang tidak panjang, tapi juga memaksaku untuk memperhatikan lingkungan sekitar. Kiri-kanan sepanjang perjalanan dipenuhi dengan pedangang-pedangang yang berteriak-teriak memanggil pembeli untuk membeli dagangannya. Mulai dari pedagang baju, buah, sayuran, sampai yang menjual ikan. Hal ini membuat jalanan kotor terhadap limbah-limbah rumah tangga yang terdiri dari sampah organik dan anorganik.
            Bau, sampah, keramaian, lengkap tersedia. Pertanyaan yang kembali terfikirkan adalah, kenapa tidak timbul kesadaran untuk merawat lingkungan ini. bukankah lingkungan yang tercipta, akan berpengaruh juga untuk kenyamanan kita? Belum taukah masyarakat terhadap penanggulangan sampah? Atau kembali ke masalah klasik yang terjadi, ‘tuntutan ekonomi’?
            Entahlah…
            Semoga kitalah generasi yang membuat perubahan bangsa ini kearah yang lebih baik tentunya…

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS  [2]:247)

Astecia P. Scofield
16 Agustus 2010, 12:19 PM

DIBALIK MEGAHNYA PARIS VAN JAVA.




            Melihat pengamen menyanyi di lampu-lampu merah kota bandung, bukanlah hal yang asing lagi. Kita, sudah sangat terbiasa dengan kehadiran mereka. Terkadang, ketika mereka menyanyi di panas teriknya kota bandung, kita bersikap acuh, memainkan handphone, tidur, baca buku, atau mengobrol asyik dengan teman, seolah mereka tak pernah ada. Pernahkan kita ingin tau kehidupan mereka? dibelakang gitar-gitar tua itu, mereka mengukir nada-nada harapan , menggantungkan doa-doa pada tali senar itu.
            Siang itu, di pojok-pojok gedung tinggi kota bandung, tampaklah sekelompok anak jalanan yang sedang beristirahat. Tempat yang sebenarnya tak layak untuk dijadikan tempat peristirahatan. Tentu keadaanya berbeda jauh dengan tempat istirahatnya para pejabat di villa-villa mewah yang mungkin, tarif menginap satu malamnya saja,bisa mencukupi biaya makan satu bulan rakyat miskin. Saya dan seorang teman, menghampiri mereka. Sepertinya, mereka cukup kaget dengan kedatangan yang tak diduga ini.  memulai pembicaan dengan mereka, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Karena, saya menyadari sepenuhnya, bahwa saya harus ikut masuk kedalam dunia mereka, tanpa harus membawa-bawa kehidupan saya.
            Setelah berkenalan dengan mereka, tanpa izin mereka langsung pergi satu per satu sambil tersenyum malu. Entahlah, mungkin mereka merasa terganggu dengan kedatangan kami. Mungkin, beginilah mereka memandang kami. Tapi, saya tak pernah tau,  kacamata seperti apa yang mereka gunakan.
            Tapi niat kami, tak dangkal seperti genangan air hujan. Kami mendatangi pojok lain, dan disanalah kami menemukan seorang anak jalanan, yang ternyata punya banyak sekali harapan. Namanya adalah Van. Van memiliki style seperti kebanyakan anak jalanan. Rambut yang tegak ditengah (saya tidak tau model apa itu), anting-anting besar di kedua telinga, baju dan sepatu yang kumal, tato dari matakaki sampai dengkul yang tidak jelas polanya seperti apa, dan wajah yang kotor karna debu dan asap-asap kendaraan. Wajar saja hal seperti itu yang dilihat jika membandingkan dengan lingkungan yang tidak kondusif.
            Meski terlihat pemalu, van lebih terbuka dengan kehidupannya.
 “ saya di jalan, sudah sejak kecil teh. Dari kelas 1 SD sampai sekarang, saya hidup di jalan. Jalanan, adalah rumah saya,” aku Van yang berumur 22 tahun itu.
Van mengaku, bahwa setiap hari, beliau selalu tidur dipojok-pojok gedung di kota bandung.
            “ini teman saya teh, namanya Satria. Ini anak tidak tau di untung,”ujar Van sambil memperkenalkan temannya.
 “disekolahin sama orang tua, malah selalu bolos. Ini saja, sudah seminggu tidak masuk sekolah. Kebalikan sama saya teh. Kelas 2 SMA, saya harus berhenti karna orang tua ga mampu lagi untuk membiayai,”sambung Van.
            Tak hanya sampai disitu, van bercerita bahwa ia pernah menjadi supir angkot lantaran banyak kenalan supir angkot. Tapi sekarang, beliau sudah tidak bisa lagi ‘narik’ karna SIM Van, hilang entah kemana.
            “ya kalo ngamen lagi semangat, satu hari itu bisa dapat 30-40 ribu teh. Kalo bawa angkot, lebih banyak. Tapi karena storannya yang mahal, jadi jutuhnya sama-sama saja,”jelasnya.
            Van bercerita, hidup di kota bandung itu susah. Harus bertahan dengan tuntutan kehidupan dan pastinya harus berpacu dengan kebutuhan.
            “dulu ada teh yayasan yang menampung anak-anak jalanan. Ada 2 malah. Tapi pengelolanya ga bener. Yang satu korupsi, dan yang satu lagi kena kasus ngebom gereja. Ga ngerti saya juga teh. Udah di tipu berkali-kali. Padahal katanya dananya itu gede loh, sampe pulihan juta,”ujarnya lagi.
            Van bercerita asyik sekali. Walau terkesan pemalu, ia menceritakan kisahnya, cita-citanya, dan masalah-masalahnya. Tak jarang ia ‘diolok-olokan’ oleh teman-teman seperjuangannya. Ia juga bercerita bahwa ia ingin sekali pergi ke kota Bali. Ketika di tanya tentang tujuannya, ia menjawab dengan santai “ya kepengan aja ngamen di Bali.haha,”katanya sambil tertawa lebar, mengisyaratkan keputusasaan akan nasib.
“siapa sich teh, yang tidak ingin hidup sukses? Saya pun ingin berubah. Malu teh, sudah besar masih seperti ini. Cape dengan kehidupan yang seperti ini.,”katanya sambil mengambil tas ransel hitam kucel. “ saya lari teh dari rumah. Ga betah di rumah. Pasti berantem terus soal duit sama orang tua,” dibukanya tas itu, dan di keluarkan baju-baju yang lecek, bau dan kotor,sampai-sampai tidak ketahuan lagi warna aslinya seperti apa. Tapi, dibalik baju-baju kecel itu, ia mengeluarkan bungkusan Koran. “teh,saya itu pengen berubah, tapi da susah teh,” sambil membuka bungkusan koran yang ternyata isinya adalah baju koko yang masih putih-bersih. Subhanallah…!
“Sebenarnya saya pengen sholat, tapi saya ga bisa sholat. Lagian kalau ke mesjid saya suka malu teh. Suka diliatin sama warga. Mungkin takut saya berbuat ga bener di mesjid. Jadi ke saya nya juga ga seneng gitu teh. Jadi ga mau saya kemesjid lagi,”
            Subhanallah, inilah kisah seorang Van, yang dibalik ukiran tatonya, ternyata punya ukiran harapan tersendiri. Dibalik baju-baju kumalnya, punya doa-doa untuk bisa bersih.
Teman-temanku sekalian, kisah ini banyak memberi kita pelajaran tentang sebuah arti yang bisa kita temukan di kamus besar bahasa Indonesia, tapi terkadang tak bisa kita temukan dalam hati kotor ini.
Sekarang, cobalah cari arti kesyukuran, arti perjuangan, arti harapan, arti cita-cita, dan arti solidaritas dalam kamus hati kita. Adakah kita menemukannya saudaraku?
Maukah kita membantu Van Van lainnya yang masih tersebar dipojok-pojok gedung tinggi kota bandung?, di balik booming nya nama Paris Van Java? Atau masih sangat nyaman dengan bangku kuliah yang disana ada uang Van?
Ayo MAHASISWA, di ladang inilah 3 peranmu yang selama ini kalian sebutkan berfungsi semuanya!
*semoga bisa mengambil hikmah dari cerita ini,*

“inilah Neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa. Mereka berkeliling disana dan diantara air yang mendidih. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS : [55]: 43-45)

Astecia P. Scofield.
Bandung, 15 Agustus 2010, 02:04 PM

CERMIN BURAM GERAKAN MAHASISWA


         Bicara soal mahasiswa, seperti membicarakan cowboy. Cowboy yang duduk tenang dan santai di atas bukit jika perkampungan sedang sepi dan baru akan turun jika perkampungan mengalami masalah. Begitupun mahasiswa saat ini. Kebanyakan dari mereka hanya duduk tenang di atas bangku kuliah, di bawah gedung megah yang teduh, menjalankan amanah ‘masa depan’ tanpa sedikitpun memikirkan tugas dan perannya sebagai mahasiswa.
            Sejarah mencatat, mahasiswa (pemuda) adalah agen of change. Itu berati, perubahan tidak dilakukan oleh orang tua. Perubahan dilakukan oleh mereka yang masih muda. Rasulullah sendiri merubah islam ketika beliau masih muda. Mahasiswalah yang menjadi tumpuan tegaknya kebenaran, yang dapat menciptakan kedamaian dunia. Sadarilah bahwa dunia sedang menanti ‘kebaikan’ yang akan ditebarkan mahasiswa, karna mahasiswa adalah calon-calon intelektual.
            ‘gelar’ mahasiswa itu cukup tinggi dan berkelas, mengingat perekonomian Indonesia yang sudah seperti ini. Mahasiswa punya peran penting untuk memperkuat posisi rakyat dimata negara.
            Mahasiswa mempunyai 3 peranan yang harus dipenuhi. Yaitu sebagai Agen of change, social control, dan iron stock. Dengan adanya 3 peran ini, idealnya, mahasiswa memahami betul tugasnya dan turut berperan dalam pembangunan bangsa ini. Diperkuat lagi dengan tri dharma perguruan tinggi yang salah satunya berbunyi ‘pengabdian’.
            Tapi ironisnya, banyak sekali mahasiswa yang tidak menyadari hal itu pasca reformasi. Mereka menganggap, tujuan dari reformasi sudah tercapai dengan turunnya Soeharto. Padahal, nyata sekali bahwa indikator tercapainya reformasi bukan dengan turunnya Soeharto, melainkan dengan terpenuhinya semua visi-visi reformasi. Pertanyaannya, apakah semua visi reformasi sudah tercapai?. Belum!, yang berati menandakan, bahwa reformasi belum tuntas.
            Sebagaimana yang kita ketahui bersama, puncak reformasi pada tahun 1998 dikuasai oleh puluhan ribu mahasiswa  yang ‘menyerang’ Senayan hingga Soeharto terpaksa melepas jabatannya. Gerakan mahasiswa meruntuhkan kekuasaan yang telah berdiri 32 tahun lamanya.
            Akan tetapi, perjuangan mahasiswa tahun 1998 tampaknya tidak ‘berbekas’ sampai sekarang. Pasca reformasi, gerakan mahasiswa seperti sibuk dengan ideologi dan visi mereka masing-masing. Terlalu sibuk dengan urusan internal organisasi masing-masing tanpa melihat dan memahami kembali nilai-nilai yang ingin dicapai ketika reformasi bangsa ini. Reformasi, berati perubahan secara drastis untuk perbaikan. Artinya disini, perubahan bukan hanya ketika mencapai puncak lantas berhenti, tetapi, bagaimana perubahan drastis ini dapat dipertahankan sampai sekarang, pasca reformasi.
            Pergerakan mehasiswa pasca reformasi sepertinya agak aneh. Pasca reformasi semuanya seperti menjadi terjebak pada kepentingan-kepentingan sendiri, bahkan mungkin segelintir orang atau kelompok mengatasnamakan dakwah untuk kepentingan ideologi. Terlalu banyak benturan ideologi pada gerakan mahasiswa ; nasionalisme, agamis, dan sosiologis. Rasanya sangat sulit sekali untuk menyatukan ideologi. Semua seperti kotak-kotak yang memiliki sekat dengan tulisan ‘ini ideologi kami’. Organisasi yang banyak jumlahnya terkesan seperti ‘berebut massa’ dimana yang paling banyak massa-nya, dialah ‘sang pemenang’. Mahasiswa sudah tidak bisa bercermin lagi terhadap pilar-pilar reformasi.
            Nilai-nilai islam sudah sangat jauh dari kehidupan pergerakan mahasiswa. Sulit dibayangkan, cara intelektual dan cara musyawarah masih bisa digunakan dalam pergerakan mahasiswa merubah negri ini. Sepertinya hanya akan menutupi masalah saja. Mungkin, cara yang lebih efektif adalah dengan mobilisasi massa. Akan tetapi, aksi yang berlebihan juga mengancam stabilitas ekonomi. Para investor ‘lari’ karena merasa tidak aman, ditambah dengan banyaknya aset-aset Indonesia yang terjual. Mahasiswa, harus meredam sejenak emosi mereka dan memperhatikan  kembali etika-etika dalam aksi.
            Solusi yang ditawarkan terhadap permasalahan ini mungkin tidak banyak. Salah satunya adalah mengadakan pertemuan akbar antar ormawa dan menyatukan kembali visi dan misi yang ingin dicapai, juga dengan membagi ormawa untuk bergerak pada bidang tertentu, karna reformasi, bukan hanya pada satu bidang saja. Selanjutnya adalah meminimalisir idealisme agar visi dapat tercapai. Jika tujuan sudah sama, maka akan lebih mudah untuk mencapai tujuan tesebut. Meskipun berat, tapi bukan berati mustahil. Sama seperti dulu, ketika organisasi  Boedi Oetomo dan organisasi lainnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu meraih kemerdekaan Indonesia dan mereka berhasil mendapatkannya. Jika dulu saja bisa dilakukan, tidak mustahil kalau sekarang kita bisa menuntaskan kembali reformasi, agar reformasi itu tidak tampak seperti sia-sia belaka, karena gerakan mahasiswa mengusung untuk peradaban yang lebih baik.
            Universitas yang mempunyai latar belakang pendidikan pun, dapat melakukan sesuatu untuk bangsa yang sulit dididik ini, yaitu dengan menanamkan nilai-nilai moral pada generasi muda. Karena moral ini, akan menjadi benih utama dari sebuah kebangkitan. Kenapa perjuangan moral reformasi belum berbekas sampai sekarang? Karena perjuangan moral itu disampaikan oleh orang-orang tidak bermoral. Sedangkan perjuangan moral, hanya akan sampai jika diperjuangkan oleh orang-orang bermoral. Di sini, sosok seorang guru bermoral adalah kuncinya.
            Dan terakhir yang diperlukan adalah kesabaran. Karena proses itu akan membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran yang tinggi. Perubahan itu tidak akan tercapai dalam waktu yang sebentar dan tanpa perjuangan. Contoh sederhana, seperti negara tetangga, Singapura. Pemerintah Singapura terus menerus dengan kesabaran melatih rakyatnya agar tidak membuang sampah sembarangan, dan  hasilnya, negara yang lebih kecil dari Indonesia itu, menjadi negara yang bersih. Untuk melakukan suatu perubahan, kita mempunyai 2 pilihan. Masuk ke dalam sistem, atau menjadi lingkungan. Jangan hanya menuntut, tanpa berperan. Jangan hanya ingin menjadi ‘wasit’ dalam ‘permainan’ politik ini. Tapi jadilah pemain, yang berhasil memasukkkan bola ke dalam gawang. Pemuda, yang berhasil melakukan suatu perubahan yang besar.
            Karenanya, mari kita meminimalisir idealisme, mengesampingkan ideologi, dan menyatukan visi dan misi demi menyelesaikan tugas reformasi yang belum terselesaikan. Karna gerakan hari ini, adalah investasi masa depan !


Bandung, 06 juli 2010
Oleh : Astecia P.Scofield
0907036
Himpunan Mahasiswa Kimia FPMIPA UPI
                                                                         *memenuhi tugas Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa 2010*

Harry Potter juga pasti bingung.

Hari itu, aku dan 6 orang aneh yang ntah dari planet mana berencana nonton film dari kisah terakhir Harry Potter. Awalnya kita mau nonton di hari pertama penayangan, tepatnya minggu lalu (29 juli 2011), hanya mendadak sebuah sms dan pesan di FB memundurkan rencana nonton kami.
nah, kisah ini terjadi di bioskop BIP. dengan bersemangat kami menunggu jam penayangan hingga akhirnya, suara mbak-mbak itu memanggil kami para penonton Harry Potter.

dengan cepat kami berdiri dan menuju tempat yang sudah dinanti-nanti sejak lama. aku sedikit deg-degan dan sangat tak sabar untuk segera menyaksikan kisah aa potter. wajar saja, ini film terakhir gitu loch. bulan ini, sudah berapa ratus ribu yang aku keluarkan untuk membeli majalah ataupun pernak-pernik yang berhubungan dengan Harry Potter. ah, memang Harry Potter sangat menyenangkan^^.

kembali kecerita, kita bertujuh masuk kedalam bioskop dan.....mmmhhhmmm,kebingungan. terasa aneh saat melihat kondisi studio yang kami masuki. berbeda dari biasa. lebih kecil dan,mmmhhhhmmm. yah, walau kami sering kali mengalami kanker(kantong kering) tapi rasanya masih bisa memasuki bioskop yang lebih 'wah'...

ya sudahlah, mungkin sudah suratan takdir harus seperti ini...huuuaaa.
kami duduk dengan wajah senang meski masih bercampur dengan rasa bingung. aku duduk di depan dengan Ahmad mulkani di sebelah kanan dan Paramitha Echi di sebelah kiri. sedangkan keempat personil CeS Knight yaitu Mila Amalia Kh, Intan Isti, Griya Lalita, dan Aang Noviyana duduk dibelakang.

sulit untuk menceritakan kehebohan yang terjadi sebelum penayangan film, mulai dari nanya lagi ke penonton yang lain untuk memastikan kita ga salah studio, sampe nanya ke mbak-mbak yang ngider popcorn tentang harga seporsi popcorn(sudah bisa ditebak, bahwa kami hanya bertanya, tanpa membeli. berharap harganya bisa menjadi 350 rupiah setelah ditawar) dan banyak lagi kekonyolan lainnya.
film pun dimulai...

awal-awal, masih percakapan. belum seru, namun hal itu sangat tidak memudarkan semangatku hingga sampai saatnya adegan Harry dkk memasuki bank Gringotts. dimulai dari sini lah pertanyaan-pertanyaan konyol mulai berdatangan.
echi : ini apa tess?
aku : ini bank di dunia sihir, kebayang ga kalo tiap bulan mau ngambil jatah bulanan dari ortu harus naik roller coaster kayak gini dulu? nah, itu yang kecil-kecil menyeramkan,penjaga banknya.
echi : oh...*sampai saat ini aku ragu dia ngerti apa enggak*

semakin lama cerita, maka akan semakin rumit. tentu bagi para pengikut yang ga tau tentang Harry Potter hal ini sangat menyiksa. hal ini tergambar lagi dari wajah sok lugu paramitha echi saat Harry bertemu dengan adik Albus Dombledore.

echi : dombledore siapa tes? yang katek(kecil-pendek) tadi bukan? *maksud dia, goblin*
aku : -.-" bukan
echi : jadi siapa?
aku : (hendak membuka mulut namun tertahan) hmmhhh, ntar ya di jelasin.
echi : iya.
hah, tampaknya kebingungan mulai menggerogoti otaknya hingga ia putus asa dan memutuskan untuk hijrah ke handphone. aku berasumsi bahwa dia pesbukan atau smsan.

adegan selanjutnya adalah saat Harry melihat kerabatnya banyak yang meninggal karna pertempuran. saat ini ni, kesabaranku bener-bener harus dipertaruhkan. secara, aku yang saat itu lagi nangis karena ngeliat Fred, Tonks, dan Lupin yg meninggal harus mendengar pertanyaan konyol dari 2 orang dikiri dan kananku, echi dan mulkan.
echi(lagi) : itu siapa yang meninggal? kok nangis?
mulkan : siapa cha yang ninggal?(dengan aksen palembangnya)
aku : itu...
(lagi-lagi aku speechless karena bingung harus jawab apa. ga diceritain kasian, diceritain juga binggung n ribet. jadi aku memutuskan untuk diam dan tak melanjutkan kembali kata-kata itu, berharap mereka juga ngerti).
tapi ternyata, mereka malah manjadi-jadi dan tak mau diam
mulkan : tadi itu siapa? siapanya Harry?
echi : iya tess siapa?
astagfirullah...
mendadak aku jadi kepengen nonton di tangga-tangga dalam studio...
aku ingin merasakan keharuan yang mendalam, namun tak bisa karna pertanyaan itu terus meluncur dari mulut mereka berdua.
aku pun menjawab asal," itu bapak baptis Harry". meski setelah itu aku sadar aku salah jawab, tapi aku tetap memilih diam dan membiarkan mereka berada di jaln kesesatan. da atuh gimana kalo di ceritain mah bisa dari Harry Potter 3.

dan masih banyak komentar-komentar kocak yang dilontarkan oleh anak-anak kehilangan arah ini.  mulai dari :
 mulkan : kok di surga pake kaos biasa ya? trus, bangkunya kayak di Jica. eh, si Dombledore pake gamis ternyata. (saat Adegan di Surga)?
echi : mereka sebenarnya lagi nyari apa sich?(petualangan Harry mencari Hocrux dan sepanjang cerita itu dia masih belum paham juga)
mila : emank air matanya ajaib ya (saat snape menyuruh Harry untuk mengambil air matanya)

dan masih sangat banyak lontaran maupun pertanyaan aneh lainnya.
meski sangat mengganggu konsentrasi nonton, tapi semalam itu adalah hari yang luar biasa. mungkin saja sebenarnya mereka ga mau2 amat nonton harry potter, tapi karna mau nemenin aku, mereka rela menanggung azab kebingungan dan kehilangan arah.
ah, nonton sama potterfreak dan sama non potterfreak itu berbeda. jelas sangat berbeda, namun kesan yang ditimbulkan pun juga sangat berbeda.
trims untuk kalian:
Ahmad Mulkani.
Paramitha Echi
Mila Amalia
Intan Isti R.
Aang Noviyana
Griya Lalita F.

semalam itu adalah hari yang sangat menyenagkan ^^

Assalamu'alaykum ^^

Jreng...Jreng....!
Hi....Hi...
ini blog baru acha ^^
akhirnya setelah sekian lama pengen punya blog, kesampaian juga...
trims untuk Adikku yang paling lantang, Aang Noviyana Umbara yang sudah sangat sabar membantu. juga untuk yang lainnya seperti Intan Isti Rogayah, Griya Lalita Firdausy, dan Mila Amalia Kh yang membuat semalam dan subuh ini menjadi sangat luar biasa. CeS Knight memang LUAR BIASA!
berkunjung lagi ya...